‘Malu Sama Matahari’

Mataku masih terpejam rapat ketika telingaku menangkap dering ponsel yang lirih–entah darimana. Tak ada cukup tenaga bahkan sekedar untuk membuka mata, aku menggapai asal ke segala arah dengan tanganku. Tanganku tak kunjung mencapai benda metal dingin yang bergetar, membuatku terpaksa membuka mata dan mengangkat kepala dari bantal. Deringnya seketika pun berhenti. Seraya mendengus, aku kembali membanting kepala ke atas bantal. Belum lama aku kembali berbaring, terdengar pintu kamarku diketuk pelan.

“Mei?” suara Linda terdengar dari balik pintu, “Udah bangun?”

“Udah, mbak. Kenapa?” tanyaku dengan tenggorokan yang masih kering.

“Mamamu telpon nih–nyariin. Coba cek hape deh. Nanti mau telpon lagi kayaknya.”

image

“Oh? Iya, makasih, mbak,” ujarku sekenanya.

Dan benar–tak perlu menunggu lama, suara ponsel kembali menggaung di kamarku yang ternyata terdengar dari bawah bantal. Dan benar lagi–tulisan ‘Mama’ berkedip-kedip di layar ponsel.

“Mei? Mei?!” suara Mama menyeruak begitu tanganku menyentuh layar ponsel–bahkan sebelum aku sempat menempelkan ponsel ke telingaku.

“Apa, Ma? Masih pagi lho ini. Ada apa sih?” aku berusaha menormalkan suaraku.

“Lho justru karena masih pagi, Mei. Baru bangun? Ini udah jam berapa hayo?”

“Jam berapa sih?” aku berusaha membuka mataku dengan benar.

“Jam 10, Mei. Udah hampir siang. Kok baru bangun? Kamu nggak kerja?”

“Ma, lagi long weekend ini–libur. Mama nggak liat kalender?”

“Oh? Ya kan tetep aja masak cewek bangun siang.”

“Maaa,” rengekku, “Emang kenapa kalo cewek bangun siang? Nggak ada hukum alamnya.”

“Lho ada dong. Kodrat. Jadi cewek itu harus rajin.”

“Biar?”

“Cewek kan nantinya bakal jadi istri, berarti kan pagi-pagi udah kudu nyiapin sarapan buat suami. Nah kalo udah jadi ibu? Kudu ribet ini-itu buat anaknya.”

“Ma, itu kan masih lama. Boro-boro. Trus Mei kudu latian bangun pagi tiap hari gitu meskipun abis begadangan lembur semalem gara-gara mau ada long weekend?”

“Lho? Lembur?”

“Iya, ya karena mau long weekend–ya hari ini. Sekalian bayar utang tidur juga.”

“Nggak malu sama matahari?”

“Matahari segede gaban dan always be up there pun bukan tukang intip, Ma. Apanya yang kudu malu?”

“Ya malu dong, nggak bisa jadi cewek rajin.”

“Mama tau sendiri kan Mei senengnya apa-apa dikerjain malem. Rajin malem, rajin pagi kalau sama-sama rajinnya apa bedanya?”

“Beda dong. Kalau malem, nanti suaminya–”

“Suaminya belom ada, Ma. Nangis juga nih lama-lama. Intinya tadi Mama telpon kenapa sih?”

“Oh iya lupa. Mei dulu simpen catetan nomer telpon delivery pizza dimana ya?”

“Ma, cewek rajin, masakin buat suami,” aku langsung mematikan ponsel dan membanting badan ke atas kasur.

karena pagi itu ada buimagekan untuk dihormati, tapi dijalani .. untuk #31HariMenulis

Advertisements

2 thoughts on “‘Malu Sama Matahari’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s