Sahabat, A Cheesy Word

“Met, kamu kan udah punya cowok kok masih rajin aja sih jalan sama aku?” ujarku seraya menyuapkan sesendok kuah soto ke mulut.

“Absurd. Kamu kalau jadi penulis naskah sinetron bakal fail kayaknya. Dimana-mana orang pengen temennya tetep main bareng, ketemu, segala macem. Lah ini malah heran,” Eta—yang kupanggil dengan Amet melirikku dengan tatapan heran.

“Lah habisnya kayak nggak ada beda. Jangan-jangan kamu nggak happy sama cowokmu ya?” tanyaku iseng.

source: http://quotesinyourstate.com/

“Happy aja. History di hape juga dominasi isinya dia doang—walaupun kerjaannya cuma kirim stiker sama emot yang kadang nggak nyambung sih. I am fine with him—and with you too. Harusnya kamu seneng dong aku bisa ajak kamu jalan.”

“Ya aku nggak bilang kalau nggak seneng juga sih. Heran aja. Jarang kan yang begitu. Biasanya orang—nggak cewek, nggak cowok yang masih bisa bener-bener spend time very well sama temen-temennya meskipun udah punya pacar itu ya kalau nggak pacarnya nyebelin, LDR, atau sibuk. Cowokmu kan enggak tiga-tiganya.”

“Aku dapet medali nih harusnya—hipster girl gitu or something,” Eta terkekeh.

“Yah nyesel deh muji. Tapi ya emang gitu kan? I still have my throne gitu rasanya.”

“Ah enggak juga. There are two thrones—matahari kembar. Halah, gitu deh pokoknya.”

“Dudul. Ya biasanya kayak ban serep gitu kan. Apa-apa lari ke pacar dulu, kalau pacarnya lagi nggak bisa atau tabok-able ya larinya ke temen.”

“Temen mah mana mau dijadiin ban serep. Sahabat tuh baru mau, ya kamu. Cie gitu, anjir tampangnya biasa aja!” Eta menyodok pinggangku dengan sendok—wajah berseriku yang genit pun pudar.

“Cielah sahabat, macem sinetron aja. Tapi anjir juga, masak ban serep, sedih bener,” keluhku seraya menyedot es teh dengan kecepatan tak wajar.

“Mei, sahabat tuh ya pake ikhlas. Titel terhormat lho itu. Mereka bisa ngerti jelek-bagusnya orang. Mereka yang terdepan muji bagusnya kamu dan terdepan yang hina jeleknya kamu—nggak ada jaim, transparan nggak kayak janji-janji ala tagline bank.”

“Ih aku bisa komersil juga kalik. Nebeng sarapan gratis tiap hari Jumat kan oportunis.”

“Lah akunya ikhlas. Yang boleh itung-itungan tiap pagi cuma orang dagang di pasar, kitanya nggak usah,” sekali lagi ujung sendok Eta menyenggol pinggangku.

“Tapi diserepin,” aku mengacungkan sedotanku ke wajah Eta.

“Dan kamu no worries. Sahabat bisa paham dimana status prioritasnya—tanpa diminta. Sahabat kalau posesif trus apa beda sama tagihan kartu kredit? Sahabat yang baik itu ya kayak pacar yang baik, paham kalau setiap orang itu punya kehidupan masing-masing dan merdeka. Umur udah lebih dari 20 tahun ya udah mandiri kan—anggep aja gitu kalau nggak mau dibilang merdeka deh. Orang tua aja udah nggak minta kita buat apa-apa bareng dan nemenin atau ditemenin kok—so do boyfie-girlfie and besties.”

“Sotomu nggak ada racunnya kan barusan?” aku melirik iseng ke arah mangkuk Eta.

“Mei, nanti pulangnya sendiri aja yah. Aku tinggal,” Eta menatap sebal.

“Lah ban serep jangan ditinggal dong. Siapa tau ban ada yang pecah di jalan, ntar repot. Belagu amat sok macho bisa urus bengkel sendirian.”

Tawa Eta meledak—ujung sendoknya telah kembali menusuk-nusuk pinggangku.

31-hari-menulis

karena ‘sahabat’ adalah tentang kesederhanaan dan tak butuh kata-kata indah yang melambung tinggi, untuk #31HariMenulis

Advertisements

One thought on “Sahabat, A Cheesy Word

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s