Malaikat Kematian

source: darkkaart.tumblr.com

Bagaimana caramu mati? Atau sederhana saja—jika boleh meminta, bagaimana dirimu akan memilih jalan kematianmu?

“BERISIK!” sebuah suara pria berat menggema di seluruh ruangan gelap ini dan juga ruang telinga serta otakku. Selongsong besi hangat menempel di pelipisku—sebuah pistol yang belum lama diarahkan ke tangan pria yang kini membungkuk terengah-engah di sisiku.

Kegelapan yang nyaris pekat di ruangan ini membuatku tak mampu menyadari sebentuk bayang atau gerakan, tapi aku bisa merasakan tatapan tajam dari mata yang bengkak memerah menahan marah tertuju bengis padaku.

Ini konyol, pikirku dengan reflek menimbulkan desah tawa sinis.

“Menertawaiku sekarang? Ha?!” pelipis mulai panas dengan moncong pistol yang semakin ditekan—dengan jelas terdengar ongkangan peluru di dalamnya.

“Pasti menyebalkan ya jadi dirimu?” sebuah keberanian asing mengomando mulutku untuk bersuara, “Tak pernah bisa mengenal ketenangan karena bisa mendengar isi kepala orang lain.”

“Kau tak bisa baca pikiranku! Kau tau apa, ha?!” pria itu seperti semakin berusaha melubangi pelipisku tanpa perlu menembakku dengan pistolnya.

“Hei, ruangan ini begitu gelap dan dari tadi kau belum pernah menyentuhku atau cowokku. Tau darimana kau kalau kami ini betul-betul ada dan bukan suara entah darimana?”

“Ini,” pria itu menekan-nekan pistolnya ke banyak titik di wajahku, “Menurutmu aku bodoh?”

“Bukan bodoh—tapi bingung. Coba pikir ulang. Kapan kita kemari? Dan bagaimana? Oleh siapa? Untuk apa?”

“Ka—kau!” ada jeda dalam suaranya—jelas ada perdebatan dalam kepalanya.

“Aku hanya membimbing yang sedang kebingungan. Marah-marah tak membuat semuanya semakin jelas.”

“Cerewet!” suara tembakan meledak di depanku—telingaku berdengung dan berdarah.

“Hei, tenangkan dirimu. Kau hanya memboroskan pelurumu. Kau sendiri juga tak tau kan sampai kapan kau harus bersama kami begini? Jika dipikir-pikir, kau sama saja seperti kami tapi kau berpistol dan tak diikat—itu saja bedanya.”

“Apa maumu?” ada kegetiran dalam suaranya.

“Tak ada. Mengajakmu berbicara saja—itu jika kau yakin bahwa aku sedang berbicara dan bukan berpikir.Aku ingin mengajukan pertanyaan sederhana—siapa aku?”

“Wanita menyebalkan!” ujarnya menggebu tanpa berpikir.

“Wah wah. Aku kan bermaksud baik. Tak perlu setegang ini. Apa kau memang tak tau siapa aku? Baiklah, kalau begitu, pria manis yang sudah kau lumpuhkan tangannya ini siapa?” aku melirik sekilas sesosok tubuh di sampingku.

“Buat apa aku tau?”

“Kau tentu perlu tau siapa saja orang yang sedang kau hadapi kan? Atau tak ada yang memberitaumu? Siapa sih yang menyuruhmu serepot ini?”

Pria itu terdiam—lama. Suara ongkang peluru menutupi kebingungannya yang semakin berubah menjadi rasa takut.

“Kita ada dimana?” tanyaku.

Aura kesabaran sang pria itu seperti tersedot habis ke dalam paru-parunya dan meledak menjadi jeritan mengerikan—melengking dalam sebuah amarah yang terdengar pilu. Mendadak suara tembakan kembali terdengar jauh di atas kami—menimbulkan runtuhan-runtuhan kecil.

“Kau ingin merubuhkan tempat ini?”

“Ku bunuh kau! KU BUNUH!” desisnya dengan suara bergetar yang tak wajar.

“Kenapa tidak kau lakukan daritadi? Satu peluru di telingaku, dua di tangan cowokku. Tak perlu hidangan pembuka jika sudah lapar,” tanyaku tanpa merendahkan atau meninggikan nada bicara—tak ada suara balasan, “Kau tak mau? Atau tak boleh?”

“TAK BOLEH!” geramnya.

“Oleh siapa?” tanyaku santai dan lagi-lagi dirinya menjerit dengan lolong yang lebih memilukan. Suara debam yang cukup keras terdengar dari arah suara sang pria—tubuhnya terjatuh di atas lutut-lututnya. Terdengar pula debam keras besi berat yang terjatuh—pistol.

Pria itu masih melolong—kini tak bisa lagi menyembunyikan kepiluannya. Nafasnya mulai menderu dan terisak—ada bulir-bulir air mata kebingungan yang tertelan kegelapan. Derunya menggema panjang memenuhi ruangan—lama—tak menyadari hitungan waktu yang telah terlewat.

“Tolong,” akhirnya sebuah kata muncul dari isaknya.

“Maaf? Tolong? Kau? Yang benar saja.”

“Aku tak mengerti. Tolong,” isaknya mengiba.

“Hei bung, kau minta tolong pada orang yang sudah hampir kehabisan darah olehmu sendiri—dan terikat. Aku yang seharusnya tak mengerti.”

“Aku—aku—,” gagapnya bingung.

“Lagipula kau bisa kapan saja lari. Tak ada yang mengikatmu dan pistol tak jauh darimu kan?”

Pria itu terdiam. Suara kulit menepuk-nepuk lantai terdengar darinya—tangannya berusaha meraih pistol. Tak lama terdengar sebongkah besi yang terseret lemah dan berat—pria itu menggapai pistol dengan genggaman keraguan.

“Siapa sih yang kau turuti?” tanyaku lagi dan lagi-lagi hanya isak yang menjawab, “Demi apa kau sudi di sini berbagi gelap dan oksigen dengan kami yang sudah berbau darah? Memangnya siapa kamu?”

Suara isaknya kembali menjadi erangan yang serupa dengan sebelumnya—kali ini diiringi suara hantaman-hantaman pistol ke lantai.

“Siapa kamu?”

Lolongan melengking memekakkan telinga kembali terdengar. Frustasi, marah, dan bingung terasa dari suara kering dan beratnya. Mendadak suara tembakan terdengar keras dan suara debam tubuh terdengar menghantam lantai—lolongan pria itu pun hilang dan aroma darah segar tercium mengalir pekat.

“Malaikat kematian.”

Bagaimana caramu mati? Atau sederhana saja—jika boleh meminta, bagaimana dirimu akan memilih jalan kematianmu?

31-hari-menulis

karena tak ada yang tahu siapa dan apa saja yang bisa berbicara dalam gelap, untuk #31HariMenulis

Advertisements

One thought on “Malaikat Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s