Kembali Menyapa (Mengenang) #31HariMenulis

Hampir dua tahun lalu, tepatnya 20 Mei 2015, tulisan pertama saya untuk #31HariMenulis edisi tahun 2015 diunggah. 2015 adalah tahun kedua keikutsertaan saya setelah 2012 silam–iya, selama itu. Selang tiga tahun yang ada ternyata membuat selera tulisan saya bisa berubah banyak dan terima kasih kepada #31HariMenulis sudah menjadi sarana dan wadah rekam jejak transformasi itu.

tumblr_static_tumblr_static_e67vo4ivqqokkc8kk48w4wwg0_640

Continue reading “Kembali Menyapa (Mengenang) #31HariMenulis”

The Part of Journey

sebuah lanjutan dari Ranjau Reuni

summer-photo5

Deretan hidangan buffet sudah ada di hadapan Juned ketika Ika tergesa-gesa mendekati Edo. Sadar dirinya didekati, Edo pun tersedak pada suapan terakhirnya.

“Lu belum nyapa gue tadi. Sombongnya,” Ika menepuk-nepuk punggung Edo yang terbatuk.

“Eh iya, halo, neng,” Edo tersenyum pasi—menatap penuh harap pada Juned yang sedang sibuk memilih potongan ikan fillet, “Udahan lu ngobrol sama Junednya? Kelar nih CLBKnya?”

“CLBK apaan, kayak masih ingusan aja. Not really, tadi kita udah cerita-cerita sih tapi akhirnya end up ngomongin lu,” Ika tertawa seraya bersandar pada dinding.

Continue reading “The Part of Journey”

Ranjau Reuni

You may read this and this first … if you want

4600951507_8cd54ef688_z

“Tadi mamanya Mei telpon. Dikira lagi sama kamu, tapi aku bilang aja kamunya lagi reuni,” ujar Linda melalui telepon.

“Iya, tadi telpon aku juga. Hahaha. Ya udah kalo Mei udah bangun. Thank you ya,” jari Juned sudah siap menekan layar ponsel untuk mengakhiri pembicaraan.

“Eh bentar. Udah ketemu?”

“Ketemu apanya, sayang?” Juned tidak menangkap topik yang tiba-tiba dimunculkan oleh Linda.

“Itu lho. Duh masak aku kudu obvious sih?”

Continue reading “Ranjau Reuni”

Debat Kusir, Kusir Sapi

Mungkin sudah hampir satu jam lamanya aku memandangi tembok di hadapanku—putih kebiruan, polos, hampa, membosankan. Aku sesekali memalingkan pandangan ke samping kiriku, jendela berbingkai lebar yang memperlihatkan pemandangan luar—tertutup pohon. Memalingkan ke samping kananku, ada seorang pria bernama Ray yang sedari tadi terus tekun memandangi sketch book di tangannya dengan tangan lainnya menggores-goreskan pensil—duduk di samping meja penuh botol air mineral.

“Tugas, Ray?” tanyaku akhirnya.

“Oh? Kaget aku. Kirain kamu tidur daritadi, Ta. Iya,” Ray setengah melotot membetulkan letak kacamatanya.

“Bikin apa?” aku memiringkan tubuhku ke arah Ray.

“Eh, kamu tidurnya jangan miring-miring. Keteken itu selang infusnya,” Ray bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di sisi kasur, “Baru sketch asal sih. Nanti mau aku pakein Adobe Illustrator.”

“Apa sih itu? Sapi?” aku kembali berbaring lurus namun dengan mata yang mengunci pada sketch book Ray.

tumblr_ms1xruwnjm1qce3nao1_500

“Banteng, Ta. Nggak macho amat kalo aku gambar sapi.”

Continue reading “Debat Kusir, Kusir Sapi”

‘Malu Sama Matahari’

Mataku masih terpejam rapat ketika telingaku menangkap dering ponsel yang lirih–entah darimana. Tak ada cukup tenaga bahkan sekedar untuk membuka mata, aku menggapai asal ke segala arah dengan tanganku. Tanganku tak kunjung mencapai benda metal dingin yang bergetar, membuatku terpaksa membuka mata dan mengangkat kepala dari bantal. Deringnya seketika pun berhenti. Seraya mendengus, aku kembali membanting kepala ke atas bantal. Belum lama aku kembali berbaring, terdengar pintu kamarku diketuk pelan.

“Mei?” suara Linda terdengar dari balik pintu, “Udah bangun?”

“Udah, mbak. Kenapa?” tanyaku dengan tenggorokan yang masih kering.

“Mamamu telpon nih–nyariin. Coba cek hape deh. Nanti mau telpon lagi kayaknya.”

image Continue reading “‘Malu Sama Matahari’”